Hito, adalah seorang pengembara muda yang senang berpetualang dari kota ke kota. Hito adalah anak yang sebatang kara, karena orang tuanya tiada saat dia masih umur 3 tahun, di Desa * lah dia dibesarkan oleh seorang nenek, namun disaat umur 13 tahun nenek pergi meninggalkan Hito selamanya. Semenjak itu dia hidup sendiri dengan kasih sayang orang-orang desa. Semenjak umur 15 tahun lah Hito membulatkan diri berpetualang keseluruh kota.
Suatu ketika Hito kembali kedesanya, namun saat Hito berada di hutan Hito melihat segerombolan pasukan kerjaan berbondong-bondong lewat di hutan tersebut, Hito pun bersembunyi takut terjadi apa-apa jika dia berpapasan pasukan itu. Ketika Hito bersembunyi Hito melihat para pasukan datang dari arah kampung halamannya yaitu Desa * . Saat itulah dia gelisah dan berpikir "Ada apa ini? kenapa ada banyak sekali pasukan kerajaan yang lewat kesini?". Saat gerombol pasukan itu telah habis di keluar dari persembunyiannya dan berpikir "Kenapa mereka datang dari arah desaku? apa terjadi sesuatu didesaku?", dia pun langsung berlari menuju desanya. Ketika keluar dari hutan dia melihat ada asap besar berasal dari desanya, Hito pun panik dan langsung berlari menuju desanya.
Apa yang dia takutkan ternyata benar terjadi. Desa * terbakar api oleh pasukan-pasukan yang dia lihat di hutan. Dia hanya bisa berdiri terdiam serta terkejut dengan apa yang dia lihat. Rumah-rumah terbakar, banyak warga-warga desa yang terbunuh dan bergeletakan didepan matanya. Entah apakah masih ada yang tersisa di desa ini. Dengan rasa takut, sedih, dan terkejut Hito mencoba mencari apakah masih ada warga yang selamat atau masih bisa diselamatkan. Di samping penginapan desa ini, Hito melihat seorang orang tua yang masih dapat bergerak dan kelihatannya dia memanggil Hito.
Dengan paniknya Hito langsung menghampiri kakek tersebut dan coba menolongnya. "Kakek tidak apa?" tanya Hito dengan panik. "Rin... Rin..." Kata kakek dengan lemas dan menunjuk kearah rumah yang berada di pojokan desa. "Rin? Ada apa dengan rin kek?" tanya Hito dengan makin panik. Kakek itu hanya menjawab Rin... Rin... dengan lemasnya dan kakek itu pun meninggal. Hito semakin sedih dan panik melihat warga desa yang mengasuhnya saat dia kecil meninggalkan dia. "Kenapa ini bisa terjadi? kenapa?" kata Hito dengan perasaan sedih dan menangis. Kemudian dia teringat dengan perkataan kakek-kakek tadi, "Rin!? Rin !!!" dia teringat akan satu-satunya teman semasa kecilnya. Kemudian dia melihat kearah rumah yang tadi kakek tunjuk, "Apa jangan-jangan rin masih selamat dan ada di rumah itu? Aku harus melihatnya..." kata Hito, dan dia pun langsung menuju rumah itu.
Baru beberapa langkah seorang pasukan meneriaki dirinya. "Hei!!!", teriak perajurit. Ternyata ada 2 prajurit kembali kedesa ini. "Ternyata masih ada yang hidup!, ayo kita bunuh dia..." ujar salah satu pasukan. Hito yang tidak memiliki senjata apapun panik dan melihat sekelilingnya. Ternyata ada sebuah besi panjang yang dapat dipakai untuk senjata, dan Hito pun langsung mengambil besi itu dan bersiap menghadapi 2 pasukan itu. Hito memang memiliki kemampuan bertarung namun kekuatannya tidak terlalu besar. Hito pun berkelahi dengan 2 prajurit yang bersenjata tersebut. Hito berhasil mengalahkan 2 prajurit tersebut, dia pun langsung lari menuju rumah yang dia tuju tadi.
Sesampai di depan rumah Hito pun langsung mendobrak pintu rumah tersebut. Ruangan dirumah ini begitu gelap, karena hari yang sudah malam dan tak ada cahaya. Dengan perlahan dia melihat sekitar dalam rumah itu. Karena jarak pandang yang begitu dekat dia hanya bisa melihat barang-barang yang berantakan. Dia sedikit heran "Apa yang sebenarnya orang-orang itu cari di desa ini?" tanya Hito dalam hati. Tiba-tiba terdengar suara langkah cepat dari sampingnya. Saat dia melihat kearah samping tiba-tiba seseorang telah menikamnya dengan pisau yang sepertinya tajam.
"Apa yang kamu inginkan dari kami dan desa ini?" bisik orang yang menikamnya. Hito tidak panik dan langsung melumpuhkan orang yang menikamnya dengan menyikut perut orang tersebut. Pisau yang menikamnya terlepas langsung Hito berbalik dan ingin menghajar orang yang menikamnya. Namun dia terhenti saat melihat gelang yang dipakai oleh orang yang menikamnya. "Gelang ini? jangan-jangan!" katanya dalam hati, "Rin!?" kata Hito dengan kaget bercampur rasa senang.
"Bagaimana kamu tau nama aku?", tanya Rin. Sepertinya Rin tidak mengenal kalau orang yang dia tikam itu adalah Hito, teman mainnya saat dia masih kecil.
Karena Hito telah meninggalkan kota selama 5 tahun, wajar saja kalau Rin tidak menyadari bahwa orang yang dia tikam itu Hito. Hito pun langsung melepas kan Rin dan membantunya berdiri. "Kamu ini siapa sebenarnya?" tanya Rin dengan sedikit ketakutan. "Aku Hito, masa kamu lupa..." jawab Hito dengan nada bahagia. Tiba-tiba dari belakang Hito ada seorang prajurit yang tadi telah Hino kalahkan, dan bermaksud menusuk perut Hito. Hito sempat menghidar namun lengan kirinya tergores oleh belati sang prajurit. Hino terjatuh kesakitan dan Rin pun langsung melumpuhkan prajurit itu.
Rin langsung melihat keadaan Hino yang terjatuh dilantai. Badan Hino mengigil, suhu badannya menjadi dingin, Hino memucat, dan perlahan Hino kehilangan kesadarannya. Rin pun hanya berteriak memanggil namanya Hito "Hito!! Hito, sadar Hito!!". Hito pun pingsan dilantai rumah tempat dia bertemu teman bermainnya semasa dia masih kecil.
to be continue...